SEPULUH PERINTAH MENGAJAR GEORGE POLYA

Oleh: Asep Sapa’at, S. Pd.

Ingat nama George Polya, matematikawan Hongaria (1887 – 1985), bapak “pemecahan masalah”? Ph. D. dari Universitiy of Budapest, ini fenomenal: menulis 250 makalah dan 3 buku, umumnya tentang ‘pemecahan masalah’. Bukunya “How to Solve It” laris manis, dialihbahasakan ke-15 bahasa. Yang menarik di sini, Polya mewariskan “Sepuluh Perintah untuk Mengajar (Ten Commandment for Teachers). Saya ingin berefleksi atas sepuluh prinsip Polya itu, terutama terhadap apa yang saya rasakan sebagai guru matematika di Bandung.

Be Interested in your Subject (Intereslah kepada subjek Anda). Di awal pertemuan, saya berupaya membangun komunikasi positif dengan anak didik. Berbagi pengalaman hidup, dan profil orang-orang sukses (dari referensi). Saya sengaja menghilangkan sekat-sekat psikologis, tak ingin dianggap paling tahu, dianggap “kasta” saya lebih tinggi.

Sukses membangun hubungan positif itu, membuka peluang mengenali individualitas mereka. Ini yang dimaksud George Polya dengan perintah keduanya: Know your Subject (Kenalilah Subjek Anda).

Try to read the face of your students, try to see their expectations and difficulties, put your self in their place. (Cobalah untuk membaca wajah siswa Anda, cobalah melihat harapan dan kesulitan mereka, tempatkanlah diri Anda di posisi mereka). Perintah mengajar ketiga ini mengingatkan saya pada momen spesial ketika menghadapi dua siswa yang kemampuan belajar cukup rendah, saat mengajar di sebuah sekolah favorit di Bandung. Kelihatan keduanya tak berdaya mengikuti pelajaran. Setelah berempati, mereka bercerita, dan saya mengerti keduanya memiliki masalah yang sama, yaitu tingkat kesiapan belajar dan perhatian orang tua. Saya bimbing mereka belajar di luar jam pelajaran. Bertiga kami belajar bersama, berbagi cerita dan cemilan, “teman sejati’ di waktu istirahat di sudut perpus.

Metode pembelajaran diskusi selalu saya hadirkan. Belajar bersosialisasi, membentuk komunitas belajar yang produktif, serta pengalaman belajar bersama mengembangkan pengetahuan. Ketiga hal ini dapat dicapai bersamaan melalui berdiskusi. Ini sesuai perintah keempat Polya: Realize that the best way to learn anything is to discover it by yourself. Cara terbaik belajar sesuatu adalah dengan menemukannya sendiri.

Perintah Polya selanjutnya: Give your students not only information, but also ‘know-how’, ‘mental attitude’, ‘the habit methodical work’. Berilah siswa Anda bukan hanya informasi, tetapi juga ‘bagaimana mengetahui’, ‘sikap mental’, dan ‘kebiasaan kerja metodis’. Saya berprinsip, siswa adalah subjek pembelajaran, sedangkan saya motivator, fasilitaor, dan director of learning. Tugas utama saya adalah membentuk karakter pembelajar mandiri. Konsekuensinya, tidak hanya “menyuapi” siswa dengan berbagai informasi, tetapi mengarahkan mereka agar menjadi seorang pemikir dan problem solver yang andal. Mereka diberi kesempatan luas untuk bertanya, menunjukkan kemampuan terbaiknya, dan menilai kemampuan diri secara objektif untuk membangun konsep diri.

Let them learn guessing. Biarkan mereka belajar menerka. Let them learn proving. Dan biarkan mereka belajar membuktikan. Saya memenerikan kuis, simulasi, dan teka-teki untuk menguji kemampuan berpikir mereka, agar terbiasa jika menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Harapannya, mereka mampu menjadi problem solver sebagai hasil pembelajaran.

Look out for such features of the problem at hand as may be useful in solving the problem to come. Try to disclose the general pattern that lies behind the present concrete situation. Hati-hati terhadap ciri-ciri masalah di tangan sehingga dapat bergua dalam menyelesaikan masalah yang datang. Cobalah untuk memperlihatkan pola umum yang terletak di belakang situasi konkret yang diberikan. Situasi ini pernah saya alami ketika menjadi subjek pembelajaran dalam melewati proses untuk menjadi seorang pemikir yang produktif dalam menghasilkan karya ilmiah. Proses bimbingan skripsi begitu saya maknai, sehingga mendorong kepekaan ilmiah saya secara optimal.

Pada proses itu, saya menemukan banyak hal: kemampuan metodologis berpikir, kreativitas dalam berkarya ilmiah, dan pengembangan diri di dunia tulis-menulis. (>>Thanks for Mr. Jacob, pembimbing saya, sosok yang mampu menjalankan ‘perintah mengajar’ dengan efektivitas mengajar tingkat tinggi).

Do not give your whole secret at once let the students guess before you tell it let them find out by themselves as much as it feasible. Janganlah memberikan terlau jauh seluruh rahasiamu, serentak biarkanlah siswa menerka sebelum Anda mengajarkannya. Biarkanlah mereka oleh diri mereka sendiri yang sesungguhnya dapat dikerjakan dengan mudah. Saya masih tak habis pikir kalau ada guru yang memberi siwa tugas kemudian dia sendiri yang menyelesaikannya. Menggelikan, dan patut disayangkan. Artinya, kita tidak sedang bersungguh-sungguh menjadikan siswa sebagai problem solver yang baik. Padahal, ini substansi menciptalkan pribadi unggul. Dengan memberikan kesempatan siswa memecahkan masalah sampai batas kemampuan terbaik mereka, banyak sekali ide kreatif baru yang muncul. Kita pun sebagai guru menjadi semakin kaya dengan alternatif solusi yang ditawarkan siswa. Tanpa disadari pula, kita pun menjadi seorang pembelajar.

Suggest it, do not force it down their throats. Doronglah mereka, jangan memarahi mereka. Saya ingat pesan Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Beliau bersabda, ‘jangan marah’. Beliau mengulanginya hingga beberapa kali, seraya bersabda, ‘jangan marah’ (HR. Bukhari). Kemudian Abu Dzar Al Ghifari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu marah sambil berdiri, hendaklah dia duduk hingga kemarahannya hilang. Jika tidak hilang, hendaklah berbaring.” Ada empat alasan mengapa kita tak perlu marah. Pertama, marah membutakan pandangan—tidak bisa berpikir jernih. Kedua, marah mengundang musuh. Kerjasama dibangun di atas semangat bantu-membantu, bukan paksa-memaksa apalagi disertai kemarahan. Ketiga, marah berarti kelemahan. Kita kalah saat marah. Orang yang membuat kita marah, mengalahkan kita. Keempat, marah membuang energi.