Rumor di Balik Pergantian Kurikulum (oleh Endang Mulyana)

Salah satu penyebab perubahan kurikulum (enacted curriculum) adalah kemajuan teknologi. Di Amerika Serikat (AS) sudah dirasakan sejak perang dunia kedua yaitu kekurangan orang-orang yang dapat menangani senjata dan alat perang mutakhir seperti roket, radar dan lain-lain. Peluncuran Sputnik pertama oleh Rusia (pesaing utama AS) tahun 1957 menjadi pemicu pembaharuan pengajaran matematika dan sains yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Terdapat pembaharuan yang drastis tentang materi ajar matematika, yang dikenal dengan matematika modern atau New Math (Ruseffendi, 1988).

Perubahan kurikulum 1968 ke kurikulum 1975, khususnya terkait dengan mata pelajaran matematika, diprakarsai oleh dosen-dosen matematika di Indonesia, yang sebagian besar kuliahnya di AS, antara lain Ruseffendi, Abdul Kodir, Andi Hakim Nasution, Toetojo dan kawan-kawan. Sebelum tahun 1975 kita tak mengenal mata pelajaran matematika, tetapi berhitung untuk di SD, aljabar dan ilmu ukur untuk di SMP, sedangkan untuk di SMA terbagi ke dalam beberapa mata pelajaran yaitu, ilmu ukur ruang, ilmu ukur sudut, ilmu ukur analitik, dan aljabar. Jurusan pendidikan matematika di lingkungan FPMIPA, sebelumnya adalah jurusan ilmu pasti yang berada pada Fakultas Keguruan Ilmu Eksakta (FKIE) IKIP Bandung.

Ketika kurikulum 1968 dilaksanakan, penulis sedang menjalani pendidikan di SMA. Belajar matematika dirasakan sebagai menghafal fakta dan rumus, serta prosedur dan menggunakannya dalam menyelesaikan soal-soal yang biasa muncul pada mata pelajaran Ilmu Ukur Sudut, Ilmu Ukur Ruang, Ilmu Ukur Analitik, dan Aljabar. Pengajaran yang dilakukan guru adalah menjelaskan fakta, rumus, memberikan beberapa contoh soal, latihan, kemudian diakhiri dengan ulangan (test). Anehnya pembelajaran matematika di sekolah sekarang, masih banyak yang seperti itu, padahal kurikulum sudah beberapa kali berganti.

Dalam kurikulum 1975, kurikulum matematika di SMP dan SMA didasarkan atas buku ajar matematika saduran dari buku “Modern Mathematics for Schools” karya Scoottish Mathematics Group. Sedangkan untuk matematika SD disadur dari buku “Enttebbe Mathematics Series” karya Education Development Centre, Massachusett, USA. Ini adalah buku-buku siswa matematika yang terbaik, yang pernah digunakan di Indonesia. Buku- buku tersebut menyajikan pengetahuan (matematika) relasional, tidak semata-mata pengetahuan procedural. Buku-buku itu memuat obyek langsung matematika secara seimbang, strukturnya sistematis dan sesuai dengan perkembangan tingkat berpikir siswa.

Pergantian kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 menurut cerita seorang professor pendidikan matematika, konon disebabkan oleh usulan dari para pengusaha penerbit kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Buku saduran matematika yang digunakan di SMP dan SMA, diterbitkan oleh dua penerbit yaitu, Balai Pustaka dan Intermasa. Sementara penerbit-penerbit lain tidak memperoleh kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari pencetakkan buku matematika. Konten materi matematika SMP dan SMA pada kurikulum 1984 persis sama, yang membedakan hanya urutannya saja diubah-ubah, bahkan ada materi kelas 1 dipindahkan ke kelas 2 atau sebaliknya. Perubahan urutan Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), memberikan kesempatan kepada para penerbit untuk mengikuti tender pengadaan buku matematika dari masing-masing provinsi.

Pada kurikulum 1984 diperkenalkan cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dan sekolah dasar di Cianjur dijadikan proyek percontohan. Para siswa belajar dengan setting kelas berkelompok, belajar dengan mendiskusikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Ketika mereka belajar ada siswa yang membelakangi papan tulis, dan ini menjadi masalah ketika guru memberikan komentar dan penjelasan pekerjaan siswa. Siswa yang duduk membelakangi papan tulis, dia harus memutar badannya ketika melihat penjelasan guru. Ketika Bapak Mendikbud melihat itu, merasa kasihan sama siswa, maka CBSA tidak boleh diteruskan.

Bila kurikulum tidak diganti, penerbit tidak punya proyek besar, salah satu caranya adalah mengganti kurikulum. GBPP matematika kurikulum 1996 hanya berbeda sedikit dengan GBPP kurikulum 1984. Akan tetapi struktur dan urutan sajian matematika SMP dan SMA, makin jauh dari buku saduran yang digunakan pada kurikulum 1975. Para penulis buku matematika, lebih banyak menambahkan prosedur matematika melalui contoh-contoh soal. Kesukaran soal-soal latihan lebih ditingkatkan.

Munculnya kurikulum KBK dipicu oleh munculnya kurikulum standar matematika yang dikembangkan oleh NCTM di AS. Kurikulum KBK sebatas wacana dan uji coba, masalah penilaian yang dituliskan dalam laporan hasil belajar saat itu tahun 2003 cukup kontroversi di kalangan guru. Pada saat itu pemerintah lebih mendahulukan menetapkan terlebih dahulu tentang undang-undang Pendidikan Nasional dan Guru dan Dosen, baru kemudian mengembangkan kurikulum KTSP, dengan cikal bakal kurikulum KBK minus penilaiannya.

Kurikulum 2006 lahir setelah lahir Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003. Dalam kurikulum 2006 terdapat berbagai standar, mulai standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar-standar lainnya. Pada kurikulum 2006 ini terjadi pergeseran dari paradigma pengajaran ke paradigm pembelajaran, dari berpusat kepada guru ke berpusat pada siswa. Tapi dalam pelaksanaan proses pembelajaran di dalam kelas hingga saat ini tidak banyak berubah. Apakah itu menggunakan kurikulum 1975, 1984, 1996, maupun 2006, pembelajaran matematika di dalam kelas relative tidak berubah. Pembelajaran matematika dimulai dengan guru menjelaskan konsep, fakta, prinsip, atau prosedur, kemudian guru memberi contoh soal, siswa berlatih menyelesaikan soal-soal, di kelas dan di rumah, dan diakhiri dengan tes. Mengapa begitu? Apa yang salah? Selama pertanyaan ini belum terjawab, pergantian kurikulum dengan kurikulum manapun termasuk kurikulum 2013 tak akan mengubah keadaan pembelajaran matematika di dalam kelas.