Telah diseminarkan pada Konferensi Internasional Pendidikan Dasar Kedua di UPI Kampus Sumedang, 29 Oktober 2011

Oleh :

Dewi Rachmatin

(sujanadewi@yahoo.com)

Jurusan Pendidikan matematika FPMIPA UPI Bandung

Abstrak

Kemajuan yang pesat di bidang teknologi video-kamera memungkinkan kita dapat memvideokan pembelajaran bidang matematika dan sains di kelas untuk keperluan pembelajaran ataupun penelitian dalam skala kecil. Salah satu keuntungan menggunakan video dalam meliput pembelajaran bagi guru dan calon guru adalah video memunculkan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan kategori analisis yang timbul dari data berupa video dan kejadian-kejadian aktual di kelas dapat diobservasi secara berulang-ulang.

Program-program peningkatan kualitas guru sudah banyak dilakukan. Meskipun demikian kegiatan-kegiatan seperti itu tidak memberikan perubahan berarti bagi pembelajaran di dalam kelas. Setelah mengikuti suatu kegiatan penataran, cara guru mengajar tetap saja seperti sebelum mengikuti kegiatan penataran (Widodo, 2006). Hal yang serupa juga terjadi pada calon guru. Meskipun dalam perkuliahan mahasiswa diajarkan dengan berbagai metode namun pada saat mereka melakukan praktek mengajar di sekolah, cara mereka mengajar tidak memperlihatkan adanya inovasi yang berarti (Widodo, 2006). Hal ini menandakan perlunya alternatif baru untuk peningkatan kemampuan mengajar guru/calon guru.

Melalui kegiatan Lesson Study yang telah dirintis sejak tahun 2006 samapai 2010 di Kabupaten Sumedang (kegiatan yang dilaksanakan atas kerja sama JICA “Japan Incorporation Agency”, DIKTI, FPMIPA UPI Bandung dan Dinas Pendidikan Kab. Sumedang) telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru matematika dan sains (Kimia, Fisika dan Biologi). Khusus untuk guru/calon guru biologi telah dilakukan upaya mengembangkan profesionalisme guru biologi oleh Widodo dkk. (2007) melalui paket program coaching berbasis video.

Kata Kunci : video, peningkatan kemampuan mengajar guru, mengembangkan profesionalisme guru.

A. Manfaat Penggunaan Video

Mengapa menggunakan video sebagai bentuk data dalam mempelajari pembelajaran di dalam kelas? Secara tradisional cara untuk mengukur pembelajaran di kelas pada skala luas telah banyak digunakan oleh guru ( sebagai contoh adalah kuisioner). Pada umumnya, kuisioner ekonomis dan relatif mudah digunakan untuk mengadministrasikan responden yang berjumlah besar, serta tanggapan-tanggapan biasanya bisa siap ditransformasikan ke dalam file data yang siap dianilisis oleh statistik. Bagaimanapun, menggunakan kuisioner untuk mempelajari pembelajaran di kelas menjadi masalah karena sulit bagi guru untuk mengingat kejadian-kejadian dan interaksi di kelas yang terjadi secara cepat. Lebih dari itu, perbedaan-perbedaan pertanyaan berarti sesuatu yang berbeda bagi guru berbeda, karena itu menciptakan isu-isu yang valid.

Video menawarkan suatu alternatif untuk mempelajari pembelajaran, dengan berbagai keuntungan khusus. Sebagai contoh, video dapat menjelaskan secara detail kegiatan pembelajaran yang begitu kompleks dari berbagai sudut pandang. Bagaimanapun, video tetap memiliki berbagai kekurangan. Sebagai contoh, pada suatu saat kami memfokuskan pada bagian-bagian komponen video yang jarang didiskusikan.

Kemajuan yang pesat di bidang teknologi video-kamera memungkinkan kita dapat memvideokan pembelajaran bidang matematika dan sains di kelas untuk keperluan pembelajaran ataupun penelitian, sedangkan kemajuan di bidang teknologi informasi memungkinkan kita dapat mendistribusikan data video pembelajaran yang berukuran besar ke seluruh dunia. Video pembelajaran tersebut dapat diakses, diamati dan dianalisa oleh calon guru dalam pre-service training ataupun guru dalam in-service training, untuk kemudian direfleksikan dan didiskusikan dengan sesama kolega.

Mengikuti saran beberapa penggagas penggunaan video, maka dapat disimpulkan beberapa keuntungan dan kemudahan video:

  • Video memunculkan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan kategori analisis yang timbul dari data: suatu perekaman kejadian-kejadian aktual dapat dioservasi secara berulang-ulang;
  • Video menyediakan data yang tidak terinterpretasi ;
  • Video memiliki sedikit keterikatan teori dibanding metode pengumpulan data yang lain ;
  • Menciptakan kemungkinan-kemungkinan negosiasi lintas pelajaran dan lintas budaya ;
  • Dapat mengulang analisis dari data yang sama dari sudut pandang teori yang berbeda pada waktu yang akan datang ;
  • Menyediakan “referensi yang konkrit untuk menemukan suatu pembagian bahasa mengenai proses pembelajaran ;
  • Video memfasilitasi integrasi analisis kualitatif dan kuantitatif, kemudian membantu mengutamakan dikotomi antara penelitian kualitatif dan kuantitatif ;
  • Menciptakan kemungkinan bagi warna baru analisis proses-proses kompleks yang mengikat untuk fakta-fakta yang dapat diobservasi.

Program pengembangan profesi untuk para guru adalah memandang pengembangan kebutuhan-kebutuhan secara personal profesi para guru seperti juga pentingnya mengakui hal itu dengan melihat berbagai usaha berdasarkan pembelajaran dapat dibuat. Seperti program-program yang berfokus pada aktifitas guru dalam menguji kerja siswanya, kinerja siswa, merencanakan kerjasama, belajar dari pembelajaran dan memperbaharuinya, serta merefleksi individu dan kelompok. Paradigma ini berubah dari bekerja dalam keterkungkungan menjadi bekerja secara kolaboratif yang dirasakan diterima oleh guru.

Menurut Stigler (2002), beberapa pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan guru yang profesional meliputi:

  1. Guru perlu belajar untuk menganalisis praktek-praktek mengajar sesama guru dan dirinya sendiri. Artinya dengan cara menganalisis tersebut guru berfikir mengenai hubungan antara pembelajaran dan pembelajaran;
  2. Guru perlu membuka diri untuk mendapatkan berbagai alternatif dalam pembelajaran;
  3. Guru perlu penilaian yang bersifat situasional untuk mengetahui kapan mereka menerapkan metode-metode pembelajaran.

Hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa pembelajaran adalah sebuah aktifitas kebudayaan dibandingkan dengan mempelajari sesuatu di sekolah. Kebanyakan guru belajar untuk mengajar muncul dengan melihat gurunya mengajar. Kemudian menyesuaikan metode tersebut bagi pembelajarannya. Mengubah pembelajaran berarti mengubah budaya mengajar untuk sebuah latihan berdasarkan pengetahuan.

Roth (dalam Herdiana & Rachmatin, 2007) mengemukakan tiga rekomendasi untuk mengubah kultur pembelajaran untuk meningkatkan pencapaian siswa melalui program pengembangan keprofesionalan bagi guru :

  1. Guru diminta untuk menyempatkan waktunya (tiap hari atau tiap minggu) untuk mempelajari praktik-praktik pembelajaran yang berfokus pada perencanaan pembelajaran dan merefleksikan keefektifannya;
  2. Guru disediakan berbagai contoh metode-metode pembelajaran alternatif;
  3. Guru diberikan kesempatan untuk menganalisis kerja siswa dan memahami pemikiran siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan pemikirannya.

Guru-guru yang mempelajari video menemukan pengalaman yang berguna dalam tiga cara :

  1. Meningkatkan kesadaran mereka mengenai praktik-praktik pembelajarannya, membuat mereka merasakan kekuatan untuk mengubah kebiasaan rutin yang telah alami dilakukan dan diwajibkan;
  2. Membuka pikiran mereka tentang berbagai alternatif ide bagi pembelajaran IPA yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya; dan
  3. Menyediakan referensi yang konkrit bagi diskusi dan kolaborasi dengan para koleganya seputar isu-isu yang berkaitan dengan meningkatkan pembelajaran dan pembelajaran.

B. Konsep Dasar Penggunaan Video

Video pembelajaran yang bagus adalah video yang mengemukakan suatu perekaman visual yang akurat dan permanen. Menyediakan semua gambar dan suara untuk membuat sense pada interaksi tersebut. Tidak menghambat catatan-catatan memori atau interpretasi dibalik observer untuk merekonstruksi interaksi yang telah terekam. Bagaimanapun, video telah terlepas dari masalah perspektif. Rekaman visual yang ditangkap oleh video berdasar pada perspektif videografer. Interaksi-interaksi di dalam kelas yang diperhatikan oleh videografer menjadi fokus kamera dan pemandangan lain interaksi di sekeliling kelas menjadi diabaikan. Di lain pihak, jika kamera ditempatkan diam dan diposisikan untuk memandang kelas secara keseluruhan, kita akan mencakupi interaksi semua siswa, tetapi memperluas kesempatan untuk dapat mengobservasi interaksi-interaksi yang lebih detail.

Ketika kita akan merekam suatu pembelajaran di kelas melalui video, maka harus ditentukan pilihan-pilihan tujuannya. Apakah kita akan merekam keseluruhan kegiatan kelas yang mungkin akan dianalisis kemudian, atau kita hanya akan berfokus pada interaksi siswa tertentu saja untuk memperoleh pandangan yang lebih detil dari interaksi tersebut?. Para videografer biasanya akan memfokuskan kameranya terhadap semua kejadian yang menarik perhatian mereka.

C. Pemanfaatan Video Pembelajaran

Penulis memiliki pengalaman sebagai tim dokumentasi dari tim Lesson Study di Sumedang dan Karawang. Penulis terlibat dalam tim dokumentasi sejak awal dicanangkannya Lesson Study di Sumedang pada bulan Juli 2006 yang merupakan kerjasama JICA, DIKTI dan Dinas Pendidikan Kab. Sumedang. Tugas penulis sebagai tim dokumentasi adalah meliput pembelajaran matematika/sains di SMP/Mts yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan Open Lesson.

Tim dokumentasi tersebut telah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan untuk mengoperasikan alat-alat rekam seperti video-kamera, tripod/monopod, perekam suara dll, juga dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan untuk menjadi juru kamera yang handal lewat pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Tim AVA bekerja sama dengan JICA dengan mendatangkan pakar di bidang video pembelajaran. Sebelum keberangkatan ke Sumedang baik untuk Konferensi maupun Implementasi, Tim Dokumentasi selalu mendapatkan bimbingan dan pengarahan terlebih dahulu dari ketua Tim Dokumentasi dan Tim AVA (Audio Visual).

Oleh karena untuk setiap bidang Matematika dan Sains (Kimia, Fisika dan Biologi) dibagi 8 kelompok/tim (A, B, C, D, E, F, G, dan H), maka untuk masing-masing kelompok tersebut ditugaskan seorang personel (anggota), jika ada anggota yang berhalangan selalu dipersiapkan anggota pengganti yang selalu siap jika diperlukan. Penempatan delapan orang personel tersebut dibagi untuk 8 SMP Negeri di Sumedang yang berbeda. Kelompok A ditempatkan di SMPN Jatinagor, kelompok B di SMPN 1 Tanjungsari, kelompok C di SMPN 4 Sumedang, kelompok D di SMPN 5 Sumedang, kelompok E di SMPN 1 Situraja, kelompok F di Darmaraja, kelompok G di SMPN Paseh, dan kelompok G di SMPN Tomo. Empat kelompok yang pertama yaitu kelompok A, B, C dan D melaksanakan kegiatan Lesson Study seminggu lebih dahulu dari pada kelompok E, F, G dan H.

Pada tahap pelaksanaan ketika sampai di tempat pelaksanaan Lesson Study, setiap personel mengecek tempat pelaksanaan dan memasang alat-alat perekam seperti tripod dan video-kamera untuk kemudian melaksanakan perekaman kegiatan Konferensi/Implementasi. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Implementasi LS adalah 3 jam ( 2 jam pelaksanaan dan 1 jam refleksi). Sedangkan pada tahap dokumentasi, setiap selesai kegiatan hasil-hasil perekaman langsung ditransfer dengan bantuan software U-Lead menggunakan 4 buah komputer yang mendukung untuk transfer data dan dibuat hasilnya dalam bentuk VCD agar dapat diputar kembali untuk direfleksikan oleh guru model dan guru-guru yang lain, serta para dosen FPMIPA UPI yang menjadi fasilitator dan Tim MONEV yang mengevaluasi kegiatan Implementasi.

Untuk kualitas hasil perekaman yang baik diperlukan 3 kamera yang sekaligus merekam satu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, yaitu kamera pertama berfokus ke seluruh siswa untuk melihat keseluruhan kelas, kamera kedua berfokus ke guru untuk melihat interaksi guru dengan siswa, dan kamera ketiga yang dapat berpindah-pindah dari satu siswa/kelompok ke siswa/kelompok yang lain untuk melihat interaksi antar siswa. Oleh karena keterbatasan kamera yang ada pada peliputan kegiatan Lesson Study di Sumedang, maka tentu saja hal tersebut menjadi tidak mungkin dilaksanakan. Akan tetapi hal tersebut telah diantisipasi dengan memaksimumkan kinerja satu kamera dengan memilih fokus utama siswa.

Beberapa aspek yang dilihat pada kegiatan Open Lesson dalam Lesson Study di antaranya adalah :

  • apakah semua siswa antusias dalam belajar atau tidak?
  • apakah yang menjadi fokus perhatian itu siswa atau guru?
  • apakah hasil-hasil belajar yang diinginkan guru dengan berbagai metode pembelajaran yang diberikan telah tercapai atau tidak?
  • apakah interaksi guru dengan siswa cukup baik?
  • apakah interaksi siswa dengan siswa cukup baik? Terutama hal ini harus nampak untuk kegiatan diskusi kelompok atau dalam pembelajaran kooperatif.

Dari semua aspek-aspek yang harus terjawab dengan hasil perekaman kegiatan pembelajaran berupa video dari hasil pengambilan gambar satu kamera saja yang digunakan, membuat tugas seorang Tim Dokumentasi sangat berat. Apalagi kegiatan yang nampak di kamera harus nampak kegiatan yang sebenarnya terjadi di kelas dan bukan kegiatan yang direkayasa oleh pengambil gambar. Sehingga setiap selesai kegiatan Implementasi, selalu diadakan evaluasi diri untuk setiap anggota Tim Dokumentasi agar hasilnya semaksimal mungkin atau kualitasnya semakin baik.

E. Pengembangan Paket Program Coaching Berbasis Video

Masalah peningkatan profesionalisme guru/calon guru yang terjadi adalah pada saat diketahui bahwa prestasi siswa tidak memuaskan, maka gurulah yang seringkali menjadi pihak yang disalahkan. Maka muncul ungkapan bahwa guru tidak profesional. Sebagai upaya untuk mengatasi “ketidakprofesionalan” ini maka muncul ide seperti peningkatan gaji, peningkatan jenjang pendidikan, guru harus juga melakukan penelitian, uji sertifikasi, dsb. Hal-hal tersebut tentu tidak salah, namun profesionalisme sesungguhnya lebih ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan profesional, adanya mekanisme untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tersebut, dan keinginan untuk senantiasa meningkatkan diri (Stigler & Hiebert, 1999 dalam Widodo, 2007).

Persoalan yang terkait dengan peningkatan kemampuan profesional guru memang cukup pelik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dalam kondisi yang ada sekarang, peningkatan profesionalisme guru dan perubahan cara mengajar di kelas sulit tercapai. Walaupun telah mendapatkan berbagai masukan untuk perbaikan pembelajaran, guru dan calon guru seakan tidak bergeming dari cara-cara mengajar yang tradisional. Ada beberapa hal yang menyebabkan yang menyebabkan mengapa usaha-usaha peningkatan profesionalisme guru/calon guru belum mencapai sasaran (Widodo, 2007).

  • Pertama, para peneliti pendidikan dan ahli pendidikan cenderung “egois”. Inovasi-inovasi pendidikan yang mereka kembangkan biasanya hanya “dinikmati” di kalangan mereka sendiri. Laporan penelitian, jurnal ilmiah, buku-buku, seminar biasanya kurang melibatkan guru.
  • Kedua, penelitian-penelitian yang dilakukan para peneliti pada umumnya mengarah pada generalisasi yang berlaku umum, padahal permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru seringkali bersifat lokal dan kontekstual.
  • Belum ada kesamaan kata dan tindakan antara peneliti dan guru. Persoalan yang dianggap menarik dan penting oleh peneliti seringkali bukanlah persoalan yang sesunguhnya penting bagi guru.
  • Sistem pendidikan dan pelatihan guru/calon guru yang memisahkan aspek materi dan aspek pedagogi. Dosen-dosen mata kuliah materi dan penatar cenderung menganggap bahwa tugas utama mereka adalah menyampaikan materi sehingga tidak memperhatikan aspek pedagogi.
  • Kurangnya contoh nyata yang bisa dijadikan rujukan bagi guru/calon guru.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa program peningkatan profesionalisme guru/calon guru harus lebih berorientasi kepada kepentingan guru. Artinya program-program tersebut harus berawal dari permasalahan nyata yang dihadapi setiap guru. Karena permasalahan guru seringkali bersifat kontekstual dan individual, maka diperlukan juga sistem peningkatan profesionalisme guru yang sesuai, misalnya coaching.

Coaching merupakan istilah yang umum digunakan dalam bidang pengembangan profesionalisme seseorang dalam bidang pekerjaannya. Coaching banyak digunakan dalam industri dan manajemen dalam meningkatkan kemampuan profesional individu-individu dalam suatu perusahaan. Pemanfaatan metode coaching dalam peningkatan profesionalisme guru masih sangat jarang sebab peningkatan profesionalisme guru biasanya masih dilakukan secara massal melalui penataran, dan workshop.

Coaching merupakan layanan individual terhadap seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam bidang pekerjaannya (Widodo, 2007). Coaching bagi guru-guru merupakan sebuah proses layanan ahli kepada guru dalam usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Secara metodologi semua proses yang terjadi dalam kegiatan coaching dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pemberian layanan profesional pada guru..

Blueprint paket program coaching yang telah dikembangkan Widodo dkk. (2007) terdiri dari sebuah software yang bisa digunakan oleh coachee untuk menganalisis video dan menuliskan komentar serta beberapa cuplikan video pembelajaran yang telah dipilih. Software yang dikembangkan diberi nama “Video analyzer” (lihat Widodo dkk. 2007).

Coaching, terlebih lagi coaching berbasis rekaman video pembelajaran, belum banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim peneliti di Free University of Berlin, Jerman (Fischler, et.all 2002; Schröder & Fischler, 2003 dalam Widodo 2007) mengungkapkan bahwa guru yang telah mengikuti coaching memerlihatkan peningkatan yang berarti dalam cara mengajarnya. Setelah mengikuti coaching pandangan guru tentang cara mengajar yang efektif jadi berubah dan hal tersebut diperlihatkannya dalam kegiatan pembelajaran yang berubah dari pembelajaran yang berpusat pada guru (ceramah) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Analisis terhadap kegiatan pembelajaran guru tersebut juga memperlihatkan bahwa guru mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi.

F. Saran

Oleh karena pemanfaatan video semakin mudah dan harganya terjangkau, maka memungkinkan guru/calon guru/dosen dapat memvideokan pembelajaran bidang matematika dan sains di kelas untuk keperluan pembelajaran ataupun penelitian. Proyek penelitian dengan skala kecil dapat dilakukan oleh guru untuk mengefektifkan penggunaan video sebagai perangkat pengumpul data penelitian kegiatan pembelajaran di kelas.

Hasil peliputan pembelajaran di kelas berupa video pembelajaran tersebut dapat diakses, diamati dan dianalisa oleh guru/calon guru/dosen untuk kemudian direfleksikan dan didiskusikan dengan sesama kolega. Ketika seorang guru mengamati rekaman pembelajaran, guru bisa menemukan kelemahan pembelajaran tersebut. Mengamati rekaman pembelajaran sendiri ternyata bisa mendorong guru untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukannya dan membantu mereka menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki. Sebaliknya ketika mengamati rekaman pembelajaran guru lain, kelemahan dan kelebihan guru lain ternyata juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi guru yang bersangkutan (Widodo, 2007).

Pemanfaatan video pembelajaran berupa VCD pembelajaran juga dapat dilakukan oleh guru. Guru dapat merekam peragaan/praktikum yang tidak disajikan secara langsung di kelas dan hasilnya dilihat melalui tayangan film. Di sini film sebagai media pembelajaran yang dibuat oleh guru dapat digunakan untuk memahami konsep-konsep yang sulit dipahami siswa.

Daftar Pustaka

Hendriana, D. dan Dewi Rachmatin, (2007).   Penggunaan Video  Pembelajaranuntuk Mengembangkan Profesionalitas Guru Melalui Kegiatan Lesson Study. Konferensi Nasional Lesson Study. Bandung : FPMIPA UPI Bandung.

Stigler, J. (2002). Creating a Knowledge Base for Teaching: A ]Conversation with James Stigler. Redesigning Professional Development. Vol. 59, No. 6, Pages 6-11. Educational Leadership. [Tersedia Online : http://www.ascd.org/publications/educationalleadership/mar02/vol59/num06/Creating-a-Knowledge-Base-for-Teaching@-A-Conversation-with-James-Stigler.aspx].

Widodo, A. Riandi, Amprasto & Ana Ratna Wulan. (2006). Analisis dampak program-program peningkatan profesionalisme guru sains terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sains di sekolah. Laporan penelitian Hibah Kebijakan Balitbang Depdiknas.

Widodo, A. Riandi dan Supriatno, (2007). Pengembangan Paket Program Coaching Berbasis Video untuk meningkatkan kemampuan Mengajar Guru dan Calon Guru Biologi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing.

Pemanfaatan Video Sebagai Alat untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru (oleh Dewi Rachmatin)