Kuliah di Australia

4610 OK

Menjadi Mahasiswa Internasional tentu bukanlah hal yang mudah. Bahasa menjadi kendala utama mengingat Bahasa Inggris bukanlah bahasa pertama kita. Hal ini pula yang saya khawatirkan sebelum perkuliahan dimulai. Bagaimana nanti cara berbicara dengan dosen, bagaimana kalau saya tidak paham penjelasan dosen, dan hal-hal lainnya yang mungkin juga dialami oleh teman-teman yang pertama kali merasakan kuliah di luar negeri. Di awal memang sedikit sulit bagi saya memahami penjelasan dari dosen, akibatnya sepulang kuliah saya berusaha mendengarkan kembali rekaman kuliah tersebut. Tapi, untunglah dosen-dosen di sini sangat bersahabat dan memahami bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Internasional. Ada banyak study group yang ditujukan untuk membimbing mahasiswa baru yang masih dalam masa adaptasi. Selain itu, suasana perkuliahan yang tidak menegangkan memberikan kenyamanan tersendiri bagi saya. Apresiasi yang luar biasa dari dosen terhadap mahasiswanya berhasil membuat saya terkesima. Good, Excellent, Great, Awesome adalah perkataan yang sering kali terdengar selama perkuliahan. Bagi saya pemberian apresiasi ini adalah salah satu bentuk motivasi untuk meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa.

Hidup di Australia sebagai seorang Muslim

Menjadi muslim di negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam memang butuh sedikit perjuangan. Kalau di Indonesia bisa menemukan tempat makan halal dengan mudah, maka di sini perlu usaha ekstra untuk memastikan kehalalannya, salah satunya dengan bertanya kepada teman-teman yang sudah lebih dahulu menetap di sini atau langsung bertanya kepada penjualnya. Berbelanja makanan di toko pun tidak semudah ketika di Indonesia, perlu ketelitian untuk melihat ingredients dari produk tersebut. Saya pernah tidak sengaja membeli makanan yang ternyata mengandung bahan babi karena ketidaktahuan saya dengan istilah yang digunakan. Berkaitan dengan sholat, berhubung tidak banyak masjid yang bisa ditemukan di sini, maka saya dan teman-teman sering memanfaatkan tempat kosong baik di bawah tangga, dekat toilet, atau space di dekat taman yang bisa kami gunakan untuk menggelar sajadah. Masyarakat di sini sangat menghargai keberagaman sehingga sholat di tempat umum seperti itu bukanlah sesuatu yang dianggap aneh.

Bagaimana dengan di kampus? Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari sebuah kampus yang sangat toleran terhadap perbedaan. Di Monash terdapat religious centre, dimana dua ruangan diantaranya disediakan khusus untuk mahasiswa muslim (sisters prayer room dan brothers prayer room) dengan fasilitas yang menurut saya sangat bagus untuk ukuran kampus dengan mayoritas mahasiswa non muslim. Selain itu, sebagai panduan untuk mahasiwa muslim juga disediakan handbook “Salaam Monash” yang berisikan tentang informasi makanan halal, dokter muslim, sekolah islam dan informasi lainnya.

Enam bulan sudah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa S2 di Monash University Australia. Banyak suka dan pastinya ada pula duka yang saya alami. Saya berharap semoga bisa menjalani kuliah dengan baik, selesai tepat waktu dan ketika kembali ke Indonesia nanti bisa memberikan manfaat untuk orang banyak. Aamiin.

`

-Melbourne, 25 September, 2015-

 

 

Perjuangan Mengejar Mimpi ke Negeri Kangguru (Part 2)