Kita semua pasti mengetahui apa itu bersyukur dan mengapa kita harus bersyukur. Tak ada satu pun kejadian di muka bumi ini yang terjadi tanpa Rahman dan Rahim-Nya.

Angin yang berhembus, tetesan hujan, dan gugurnya daun pun tak luput dari kasih sayang Allah SWT. Angin yang berhembus menerbangkan awan ke dataran tinggi yang akhirnya mengahasilkan hujan, tetesan hujan memberi kehidupan pada tanah yang gersang hingga tumbuh tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Gugurnya daun pun terlihat sepele namun sebenarnya bermanfaat bagi pohon itu sendiri dalam proses penyuburan.

Namun layaknya manusia biasa yang terkadang lupa, kita pun sering melupakan kata “Bersyukur”. Kita kalang kabut ketika kehilangan uang tapi kita lupa mensyukuri kehidupan kita yang masih berkecukupan. Kita kecewa dan murung ketika kita belajar di sekolah atau universitas yang notabene bukan sekolah atau universitas terbaik tapi kita lupa bahwasannya di luar sana masih banyak orang yang tak mengenyam pendidikan.

Hal diatas hanya secuil contoh yang mengakibatkan kita harus bersyukur. Karena jika kita runut nikmat Allah SWT pada kita maka untuk menghitung nikmat yang terletak pada badan kita saja, kita tak akan mampu menghitungnya. Mata yang dapat melihat, hidung yang dapat menghirup udara, telinga yang dapat mendengar, mulut yang dapat berbicara, gigi yang dapat mengunyah, sampai pada air liur yang dapat melumatkan makanan. Allah SWT begitu detail memberi kita kenikmatan namun kita dengan mudah melupakannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar kita dapatkan.

Jika diibaratkan, ketika ada seseorang yang membawa kertas putih dan memperlihatkannya pada kita lalu bertanya apa ini, pastilah kita kan menjawab dengan yakin bahwa itu kertas putih. Namun ketika seseorang tadi membuat suatu titik hitam pada kertas itu, seraya bertanya apa ini? Pasti dari kita semua akan menjawab bahwa itu titik hitam dan sangat sedikit dari kita yang mengatakan itu kertas putih. Padahal bagian putih dan hitam pada kertas itu lebih banyak bagian putihnya tapi tetap saja kebanyakan dari kita akan mengatakan bahwa itu adalah titik hitam.

Itulah manusia, yang lebih cepat dan condong melihat kesulitan dan penderitaan yang Allah SWT berikan pada kita walaupun sedikit daripada nikmat yang Allah SWT limpahkan pada kita dalam jumlah yang tak terhingga.

Maka benarlah firman Allah SWT yang berbunyi: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? “ dalam surat Ar-Rahman ayat 13. Karena seringnya kita memungkiri nikmat Allah yang berlimpah pada kita.

Marilah mulai dari sekarang kita mensyukuri apa yang kita punya daripada sibuk menyesali apa yang belum kita punya. Sejatinya apa yang belum Allah titipkan pada kita baik berupa harta, ilmu, kecantikan, jabatan atau apapun itu, karena Allah sedang menangguhkannya atau akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karena hakikatnya Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Bahwasannya bersyukur adalah ikhtiar yang paling menenangkan dan dengan bersyukur maka  kita akan jauh dari sifat iri, dengki, berprasangka buruk dan putus asa. Karena Allah SWT telat berjanji dalam ayat-ayat cintaNya untuk kita yaitu

“Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Ada Apa dengan Bersyukur?